its a case Bleeding
July 23, 2008
Cibiran atas kota nekropolis
Dengan selokan mampet, kumuh, dan nyamuk. Hanya itu yang ada di benakku tentang kota Semarang. Entah darimana bayangan itu menkooptasi pikiranku. Entah karena teringang lagu jawa semarang kaline banjir atau de javu. Bayangan itu sontak pudar setelah kuinjakkan jejakku di kota semarang yang berbukit. Tak habis pikir bagiku mengapa bule-bule kumpeni membangun sebuah kota di daerah yang mempunyai tektur topografi berbukit-bukit. Setelah tinggal di sebuah cottage diatas bukit dimana aku selalu bisa menyapukan pandangan pada bentangan luasnya kota hingga kulihat samar biru laut baru kunikmati pilihan lokasi para kumpeni itu. Belanda memang cerdas. Pantas saja dulu bisa menjajah kita. Kunjunganku ke semarang tak lain sebagai penghakim di sebuah pertarungan antar para pendekar di sebuah padepokan jauh di ujung kota semarang.
sampai hari itu.
Tidak bisa cekat mataku pada sosok gadis yang telah kuhafal paras mukanya selama setahun lebih. Ibarat kata Alan Jackson, musisi country di negeri Om Sam, I’m in love with you baby but I don’t even know your name.
Tidak akan susah-susah kubicarakan disini kawan, kalau gadis ini tidak merenggut sesuatu yang berhargadariku.
Sekian lama aku bertarung dalam jagad pertarungan kata-kata, tiada lawan yang kutakuti. Meski kuakui aku terkadang tertunduk kalah dihadapan musuh-musuhku tapi tidak sedikitpun kan kutunjukkan rasa gentar. Sekian lama aku terintimidasi oleh kecantikannya. Kini bisa kupahami perasaan jenderal besar Romawi yang menguasai tujuh samudra, Julius Caessar, ketika bersimpuh dikaki Cleopatra.
Hari itu kuberanikan diri. Tidak sia-sia kuberguru di Banten selama 7 tahun akhirnya aku bisa mengendalikan adrenalin yang terus memompa ketubuhku. Gadis itu setuju untuk menghabiskan waktu dengan beberapa cecunguk-cecunguk tidak tahu diri memandangi kota semarang dikala malam dari atas bukit tempat kami menginap. Bersenda gurau dan menikmati lagu-lagu dari boyband picisan. Entah hanya perasaanku yang melambung tak tahu diri akibat harapan-harapan fatamorgana ataukah sungguh malam itu gadis itu telah melihat ku.
Aku tak tahu dan mungkin tak kan pernah tahu.
Karena para cecunguk telah lama mengendus tumbuhnya hasrat di dadaku dan bak dinas kebakaran kota New York mereka menyiram hasrat membara itu karena para cecunguk itu tahu kami tak kan bisa bersama. Aku hanya bisa terdiam memandang temaram lampu kota semarang saat ia kembali ke peraduan sendiri. Berdesir-desir hatiku jika ingat matanya yang indah bak bola pingpong kata bang Iwan Fals, rambutnya yang mayang mengurai, dan lehernya yang jenjang dan licin.
Rindu adalah perasaan yang unik karena kita merasakan perih dan keceriaan pada saat yang sama. Seakan ada tangan gaib yang menembus padatnya tulang rusuk lalu mencengkram dan meremas jantung di rongga dada.
This feeling hurts but I dont want it to go away because all of this pain makes me feel alive. Wiseman told that sometimes we need pain to make us feel alive. Finally I could understand the Iris Lyric by Ronan Keating And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies
When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive
Oh Nona.. kembalikanlah jiwaku yang telah kau curi. Hempaskanlah hatiku ke kubangan-kubangan air pasang Tanjung Emas, aku tak peduli. Ingin kurengkuh engkau tapi belenggu ini terlalu kuat. Ampunilah aku dan redupkanlah aura kecantikanmu barang sejenak agar kubisa bernafas lagi..
Yogyakarta, 22 Juli 2008
Entry Filed under: our everyday life. .



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed