Mempertanyakan Arti Kebiijakan Pak Boediono
October 19, 2008
Sudah tepat seminggu Prof. Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia menaikkan BI Rate hingga 9.25% sebagai respons terhadap krisis keuangan global yang dipicu oleh ambruknya sector financial di Amerika. Tentu pertanyaan yang tepat kita ajukan adalah apa arti kebijakan ini bagi kita. Saya tentu bukan seorang ekonom handal seperti Faisal Basri atau seperti Boediono sendiri sehingga pendekatan yang saya gunakan adalah pendekatan ekonomi politik dan dasar-dasar moneter sederhana. Kebijakan ini sebenarnya adalah upaya pemerintah untuk memberi rasa aman bagi investor yang mulai kelabakan akibat krisis dan berlomba-lomba menarik investasi mereka. Dengan menaikkan BI Rate yang berarti meberikan tambahan incentive bagi investor, Boediono mengharapkan bahwa investor tersebut tidak serta merta lari dari dunia keuangan Indonesia dan meredam laju inflasi.
Artinya jika uang masyarakat dan investor tetap berada di dalam obligasi-obligasi pemerintah maka uang beredar akan semakin sedikit dan laju inflasi di masyarakat akan tertahan dan menghindarkan Indonesia dari krisis moneter babak 2 setelah krisis 1997.
Namun bagi saya, kebijakan mempunyai pengaruh yang buruk dalam dua hal.
Pertama, ini hanya akan menguntungkan para spekulan yaitu investor yang melakukan short selling di lantai bursa sehingga meskipun dana mereka tertahan di Indonesia namun uang tersebut sejatinya adalah uang yang disebut Hot Money. Hot Money ini sangat beresiko karena uang ini bukanlah investasi dalam bentuk riil namun lebih kepada uang panas yang sewaktu-waktu bisa pergi kapan saja. Pada tahun 2007 saja Hot Money yang beredar di Indonesia besarnya adalah 17 triliun. Kebijakan yang menguntungkan spekulan ini secara filosofis tidaklah adil bagi saya, anda, dan semua rakyat Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kita lah, para pembayar pajak, yang akan menanggung tingginya tingkat BI Rate ini. Kebijakan inilah yang selalu dilakukan oleh Alain Greenspan, Gubernur Bank Federal Amerika setiap terjadi krisis. Dan akibatnya sudah dapat kita lihat di Amerika ketika bank dan lembaga keuangan bertumbangan akibat paradigma gali lubang tutup lubang ini.
Kedua, akibat meningkatnya beban yang harus dibayarkan pemerintah tentu pada akhirnya akan menghambat pembangunan sektor Riil di Indonesia, sektor yang benar-benar menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Ini adalah langkah mundur bagi pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia. Seharusnya beban tersebut dimanifestasikan dalam bentuk penyaluran kredit mikro kepada sektor usaha kecil dan menengah yang jumlahnya puluhan ribu di Indonesia. Toh merekalah yang paling mampu bertahan ketika krisis moneter.
Pada akhirnya, kebijakan ini tentu saja adalah kebijakan jangka pendek untuk menenangkan pelaku pasar yang panik. Namun perlu diingat bahwa Indonesia, terutama Boediono, perlu memikirkan skema ekonomi jangka panjang yang lebih kukuh.
Entry Filed under: Uncategorized. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed



1.
tikno | October 20, 2008 at 7:56 pm
Anda memiliki blog yang bagus dengan isi posting yang matang
2.
Rum Muhammad | October 29, 2008 at 7:00 am
betul 9,25 % saya pikir mekanisme paling logis untuk menyelesaikan permasalahan ini. pertama tetapi lebih kepada menutup tambalan international reserves yang dilempar ke pasar (sekitar 400 juta US$ kan?) maksudnya supaya demand terhadap dollar di pasar bisa terpenuhi. kalau demand terpenuhi, maka rupiah tidak mengalami devaluasi parah terhadap dollar. perilaku pasar yang demand dolar kan karena memang didasarkan pada spekulasi. selama kebijakan portfolio tidak ketat, maka wajar terjadi.
Inflasi di poin nomor dua, karena propensity to save publik kita kan memang rendah. padahal pembiayaan bisa diambil juga dari savings alih-alih bertumpu kepada pajak.
Ada baiknya pemerintah punya rancang bangun jangka panjang bagi perekonomian, pertama sektor ekstraksi alam harus jelas kapan bisa ditransformasikan sebagai faktor pendukung industrialisasi. kalau selamanya harus bertumpu pada ekstraksi, semua tinggal menunggu habis.
3.
mahdavi | February 15, 2009 at 5:10 pm
*Oh iya sy mengundang anda tuk membaca Novel sy yg berjudul HEXVERSTOONE di blog saya, kl gak keberatan sekalian di follow, mohon dukungannya
*Salam hormat