Konsumerisme Ramadhan

September 4, 2008 at 5:29 am 1 comment

Saya termasuk orang yang sangat jarang menonton TV, untuk berbagai alasan. TApi semenjak ramadhan, iseng2 sambil nunggu maghrib atau imsyak aku jadi suka memencet2 remote TV…

Seperti ada suatu komando, kayanya semua stasiun TV getol banget menanyangkan program2 komedi.. dengan waktu yang bersamaan. Ini memang menunjukkan animo masyarakat yg teramat tinggi terhadap komedi2 ini. Yang saya herankan, setiap komedi2 tersebut selalu menanyangkan pola2 joke yang diulang, slapstick, dan memutar rekaman tertawa para penonton… seolah2 itu adalah adegan yang lucu… pola kejadian yg sama seperti sinetron..

Herannya ya itu tadi, masyarakat demen banget ama pola2 membosankan dan tidak edukatif ini. Jikapun memang komedi, kenapa bukan komedi2 mendidik seperti The Cosby Show? malah komedi2 yang kadang menjual sex appeal sebagai bahan tertawaan.. atau lebih parah lagi komedi2 yang mendiskreditkan berbagai macam profesi atau ras tertentu. Misalnya pembantu, satpam, tukang parkir, supir bajaj yang selalu berusaha ditampilkan bahwa profesi2 tersebut adalah profesi2 rendahan, bodoh dan layak ditertawakan. Yang menurut saya paling berbahaya adalah menjadikan ras tertentu sebagai bahan tertawaan. Di acaranya Komeng, kerajaan sahur, mereka selalu membuat situasi dimana seorang yang berkulit hitam dan berambut kriting adalah sasaran empuk buat ledekan… Atau dimana si Parto mengejek seseorang dengan mengutuknya menjadi orang papua… ironis… Dan kesamaan dari semua komedi slapstick tersebut adalh semuanya mengandung unsur Banci. Mengapa masyarakat kita tertawa melihat pria2 melakukan transgender? yang pada akhirnya menimbulkan stereotype ke kaum transgender sendiri sehingga satu2nya pekerjaan yang bisa dilakukan hanya menjadi bahan tertawaan dan penjaja badan. Inilah wajah negara dengan popularitas muslim terbesar di dunia.

Kesamaan lain acara2 tersebut adalah banjirnya iklan.. Mendorong konsumerisme masyarakat. Siapa kah yang harus menanggung biaya iklan tersebut? tentu kita sebagai konsumen, dan walhasil inflasi besar2an setiap bulan ramadhan tidak terelakkan oleh kita. Dalam teori ekonomi growth dihitung berdasarkan penjumlahan antara Investasi + Wages (belanja pemerintah) + Consumption + (Export-Import) and for you to know, pertumbuhan ekonomi kita yang di gembar-gemborkan setinggi 6.2% pertahun banyak didorong oleh tingginya konsumerisme masyarakat kita.

Sekarang  saat nya bertanya. Kenapa kebutuhan tertawa kita sangat tinggi? kenpa bangsa ini g menjadi bangsa yg serius dikit… Kenapa bangsa ini sangat konsumtif..

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

half full or half empty? Habib Rizieq’s trial

1 Comment Add your own

  • 1. Nadiah Alwi  |  September 6, 2008 at 2:09 pm

    semoga di masa depan, acara TV lebih baik lagi ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


hello!

welcome to my blog,
dear friends.
have a nice voyage..

last comments

muhinsan on F.R.I.E.N.D.S
m on F.R.I.E.N.D.S
astri on The agony of love..
muhinsan on F.R.I.E.N.D.S
Catherine on F.R.I.E.N.D.S

since May 13th

  • 4,102 reader

Categories

Feeds

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

test


if (typeof Soruka == "undefined" || typeof Soruka.Widget == "undefined") {document.write('');}

archives


Gelang merah untuk anak Indonesia

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: